"Bintang dan bulan akan mencatat bahwa aku pernah menjadi bagian dari sudut senyummu,meski kini,ku tak lagi ada untuk berpijak di bumi"
Part One
Siluet mentari mulai tampak bersinar,cahayanya menyeruak sudut tirai jendela beserta hembusan angin yang perlahan membangunkanku dari lelap dan membawaku melihat indahnya embun pagi.
Entah berapa lama setelah aku benar-benar sadar
dari tidurku,tiba-tiba ponsel mungilku bergetar dan layar menampilkan sebuah
nama yang agaknya sudah tak asing lagi. Tak sempat ku hiraukan ponselku, sampai
akuhirnya aku benar-benar berada di meja makan dan siap menyantap roti bakar
andalan bunda. Disela-sela menikmati si roti bakar,aku teringat kembali akan
ponselku yang masih butuh untuk kubaca isi pesan di dalamnya, kubaca dengan
teliti
“Ren,ntar jam pelajaran
kedua kita dispen,tournament basket antar kota menanti”
Tulisan dengan tanpa emot terbaca jelas olehku,
benar saja pikirku, pesan dari si raja basket alias Tara tak mungkin keluar
dari topik seputar tim T-three basketball. Dengan acuh tak acuh aku kembali ke
kamar mengambil setumpuk kostum basket lengkap dengan sepatu dan tasnya,lalu
meluncur menuju SHS Culture Grade 23 Bandung.
Sudah lewat 15 menit,harusnya aku sudah duduk
manis di bangku kelas dan menunggu bel masuk yang akan berbunyi,tapi ini justru
masih sibuk mencari celah ditengah macet, sial sekali pikirku. Benar
saja,setelah sampai di gerbang sekolah, tampak sosok Pak Surya yang siap
memberiku 25 push up nya sebelum memperbolehkanku melewati gerbang itu. Tak
apalah,sekalian pemanasan buat tournament nanti pikirku. Tapi bukan itu
masalahnya,kalau hukuman itu diberikan,otomatis akan ada masalah besar buat
ulangan kimia yang sedang berlangsung di kelasku,tak ada yang boleh masuk jika
terlambat saat ulangan,otomatis ulangan susulan,otomatis tak ada sharing
jawaban, omigod. Sibuk mempertimbangkan resiko itu,akhirnya aku langsung
berlari menuju kelas,melewati sang satpam yang berusaha menyuruhku mengambil
posisi push up.
Lolos,dan sampai dengan selamat didepan kelas.
Maybe,It’s my lucky day,guru killer itu sedang tak ada di kelas padahal seisi
kelas sedang memasang muka serius mengerjakan soal” killer kimia,akhirnya aku
masuk mengambil soal ulangan dari meja guru dan langsung duduk rapi di tempat
biasanya,tepat didepan si raja basket yang super cuek dan super jutek.
Dengan santai kukerjakan soal demi soal sambil
berusaha membaca tulisan di dalam foto yang kubuka di ponselku. Guru kimia
tercinta masuk ke kelas dan sontak mengagetkanku dan yang parah adalah ponselku
terpental ke sudut belakang tepat di bangku belakangku, sang killer yang
bagaikan mercusuar langsung mendatangiku dan mengambil ponselku,kupikir gerakan
tanganku mengambil kurang cepat sepersekian detik sehingga dia mendapatkannya
duluan.
“Rena, Tara apa-apaan kalian ini,saling mencontek
lewat hp begini!!! Kalian harus dihukum,kalian tau tidak peraturan di sekolah
ini ?! saat ulangan dilarang mencontek ! sekarang cepat keluar dan lari
keliling lapangan basket 10 kali dan hormat pada bendera 30 menit !!!! cepat
atau akan ibu tambah hukumannya !!!” sang killer terus berbicara tanpa koma.
“Tapi bu,lho ini nggak kayak gitu bu, ini Cuma
................” si Tara nyoba njelasin ke ibu guru killer.
Aku cuma diem dan langsung keluar menuju lapangan
upacara. Terlihat samar-samar bayangan Tara yang nampaknya mulai lelah
menjelaskan pada guru itu dan akhirnya nyerah dan keluar mengikuti langkahku.
Di lapangan upacara,hening,lebih dari
sunyi,bahkan Tara yang sejak 8 kali putaran berlari bersamaku,tak sedikitpun
mengucapkan kata-kata. Aku pun tak berusaha berbicara karna kutau secuek apa si
Tara itu. Tepat 10 putaran,aku berhenti dan berjalan perlahan menuju tiang bendera
untuk sejenak hormat padanya selama 30 menit, kulihat jam di tangan kananku dan
kupikir masih satu jam pelajaran lagi sebelum aku bisa dispen untuk
teournament.
Menit-menit pertama berlangsung biasa saja,hormat
dan hening serta panas matahari yang tak bersahabat masih menemaniku menjalani
30 menit ini. Sejenak kuturunkan tangan kananku dan kulihat jam,5 menit lagi
bel jam kedua,tandanya aku sudah bisa dispen, sedikit lega rasanya,aku kembali
hormat sambil kulirik Tara yang sejak tadi masih bertahan berdiri tegak sambil
sesekali menyeka keringatnya. Tiba-tiba tak kukira dia menoleh
menatapku,pikirku dia akan bertanya,ngapain liat-liat,atau bakal buang
muka,tapi perkiraanku salah.
“Capek ya ?” tanyanya sambil menatapku,sungguh
pertanyaan yang mustahil dari seorang Tara Putra Wijaya.
“Hmm,nggak juga,cuma haus banget” jawabku tanpa
balik menatapnya.
Tiba-tiba dia menurunkan tangannya dan menarik
tanganku sambil berlari,aku masih kebingungan dan akhirnya ikut berlari,dan aku
baru menyadari bahwa langkah kami ini
menuju kantin.
“Hei,kita belum selesai dihukum,mau ngapain
kesini ?” kacang,dia tak menjawab sedikitpun.
Langkahnya berhenti didepan warung Bu Siti dan
otomatis aku hentikan langkahku juga. Entah apa yang ia pesan,tapi aku memilih
meninggalkannya dan mencari tempat duduk,entah kenapa berlari bersamanya tadi
benar-benar membuat jantungku bekerja lebih cepat.
Tak lama kemudian,dia muncul membawa sejenis jus
alpukat dan jus jambu. Pandanganku langsung tertuju pada jus alpukat yang
memang jadi kesukaanku. Dengan gaya cueknya dia letakkan gelas berisi jus
alpukat itu di depanku.
“Tuh cepet minum,cepet siap-siap,ntar lagi
tournament,gue gak mau lo telat,kebiasaan yang buruk banget dari lo” dia
ngucapin kata-kata itu tepat pas aku hampir bilang makasih buat jusnya,tapi
kutahan niatku dan lebih memilih langsung meminum jus itu tanpa menjawab
kata-katanya itu.
Beberapa menit kemudian, “Tengs jusnya” kataku
sambil berdiri dan melangkah kearah kelasku,bergegas menyiapkan semua tentang
tournament nanti.
Suasana riuh di kelas,dengan wajah datar aku
langsung mengambil tasku dan langsung keluar tanpa menyapa seorangpun dari
penghuni kelas.
“Ren,lo kenapa sih? “ suara Rita terdengar dari
belakang punggungku.
“Gue gapapa Rit,cuma sebel aja tadi ketauan guru
killer dan harus dihukum bareng tuh anak” cemberut semakin terlihat di mukaku.
“Ah lagian lo nggak ati-ati nyonteknya Ren” kata
Rita enteng.
“Ah udahlah Rit,gue males bahas ini,sekarang gue
mau berangkat tanding nih”
“Tunggu Ren,tadi ada titpan dari Rama” kata Rita sambil
memberikan sebotol pocari sweet dan telihat amplop kecil yang pasti berisi
surat.
Aku segera pergi setelah mengucapkan terimakasih
pada Rita sekaligus meminta dukungannya untuk tanding final ini. Aku menatap
langkahku sambil tertuduk menerawang dan tak mengerti bagaimana harus melewati
satu momen setelah ini. Ya, melawan SHS Wijaya memang tak semudah yang
kubayangkan,jauh berbeda dari benakku karena regenerasi disana ternyata sangat
baik,sampai-sampai pemain basketnya kini lebih dari tiga yang
berbakat,sedangkan kami,akhir-akhir ini mengalami kekurangan pemain,bahkan di
kubu cewek,baru saja ada mantan kapten yang keluar,ironi bukan. Kepala ini
semakin berontak kalau harus memikirkan semua masalah itu, tapi mau tak mau
memang itu yang sedang terjadi dan harus dipikirkan. Sambil terus berfikir,aku
tak benar-benar memandang lantai koridor yang aku lewati,hanya melamun sambil
terus berfikir.
Tepat di depan laboratorium kimia,tak sengaja
mataku melirik kedalamnya,tiba-tiba ada sinar mirip kilat tepat menerpa kedua
mataku,jelas kaget yang kurasa,tapi aku lebih pada rasa penasaran siapa dibalik
kamera itu. Aku mendekat satu langkah kearah lab,tiba-tiba ada suara pintu yang
dibanting dari arah kamar mandi sebelah lab,aku langsung menoleh dan mundur
beberapa langkah,ternyata hanya angin yang menutup paksa pintu kamar mandi. Aku
kembali tiga langkah ke arah lab,dan masuk ke dalamnya,tapi yang kulihat hanya
pajangan rumus menyebalkan dan jajaran meja kursi yang biasa membuatku pusing
saat ujian kimia. Oke kamera misterius batinku. Aku keluar lab dan melanjutkan
langkah menuju tempat parkir sekolah.Setelah sampai disana,aku baru sadar bahwa
aku sedang benar-benar linlung,buat apa aku harus ke tempat parkir jika aku
berangkat sekolah tadi diantar sopir. Dengan langkah kesal aku sedikit berlari
menuju gerbang sekolah yang masih terlihat sunyi. Aku melihat dengan jelas bahwa
jam menunjukkan pukul 10.30 tandanya setengah jam lagi aku harus sudah ada di
tempat bertanding,omigod dengan tergesa-gesa aku menuju perempatan tempat taxi
biasanya bertengger. Dan lima menit kemudian aku sudah duduk diatas taxi dengan
nafas yang agak sedikit tak beraturan.
“Pak ke gor kesatrian ya”
“Iya neng,tapi jalannya lagi macet,agak sabar ya
neng”
“Yah,pak cari jalan alternatif aja pak,ini lagi
tergesa-gesa”
“Baiklah,bapak coba cari jalan yang nggak macet
neng”
Semakin tak sabar saja,sudah 15 menit aku dalam
perjalanan,yang benar saja,pemanasan dan ganti kostum tak mungkin cukup hanya
dengan lima menit kan,sedangkan jaraknya masih seperempat perjalanan dari sini
menuju tempat tujuanku. Apa boleh buat.
“Pak,totalnya berapa ?”
“Lho neng,mau turun disini ? Ini masih sekitar
1,5 kilometer lagi”
“Gapapa pak,saya turun disini aja,berapa pak ?”
“10rb neng”
“Ini pak,terimakasih”
Akirnya aku turun ditengah mobil mobil yang antri
hendak maju ke tujuan masing-masing. Hanya memiliki waktu 5 menit untuk
menempuh jarak sekitar 1 kilometer lebih,tak ada pilihan lain kecuali berlari. Saat
itu aku benar-benar tak peduli atas komentar orang yang meihatku berlari-lari
dengan seragam sekolah dan membawa dua tas di bahuku,yang aku pikir hanya
sampai ditempat tepat waktu,hanya itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar