Minggu, 28 Oktober 2012


"Bintang dan bulan akan mencatat bahwa aku pernah menjadi bagian dari sudut senyummu,meski kini,ku tak lagi ada untuk berpijak di bumi"



Part One



            Siluet mentari mulai tampak bersinar,cahayanya menyeruak sudut tirai jendela beserta hembusan angin yang perlahan membangunkanku dari lelap dan membawaku melihat indahnya embun pagi.
Entah berapa lama setelah aku benar-benar sadar dari tidurku,tiba-tiba ponsel mungilku bergetar dan layar menampilkan sebuah nama yang agaknya sudah tak asing lagi. Tak sempat ku hiraukan ponselku, sampai akuhirnya aku benar-benar berada di meja makan dan siap menyantap roti bakar andalan bunda. Disela-sela menikmati si roti bakar,aku teringat kembali akan ponselku yang masih butuh untuk kubaca isi pesan di dalamnya, kubaca dengan teliti
            “Ren,ntar jam pelajaran kedua kita dispen,tournament basket antar kota menanti”
Tulisan dengan tanpa emot terbaca jelas olehku, benar saja pikirku, pesan dari si raja basket alias Tara tak mungkin keluar dari topik seputar tim T-three basketball. Dengan acuh tak acuh aku kembali ke kamar mengambil setumpuk kostum basket lengkap dengan sepatu dan tasnya,lalu meluncur menuju SHS Culture Grade 23 Bandung.
Sudah lewat 15 menit,harusnya aku sudah duduk manis di bangku kelas dan menunggu bel masuk yang akan berbunyi,tapi ini justru masih sibuk mencari celah ditengah macet, sial sekali pikirku. Benar saja,setelah sampai di gerbang sekolah, tampak sosok Pak Surya yang siap memberiku 25 push up nya sebelum memperbolehkanku melewati gerbang itu. Tak apalah,sekalian pemanasan buat tournament nanti pikirku. Tapi bukan itu masalahnya,kalau hukuman itu diberikan,otomatis akan ada masalah besar buat ulangan kimia yang sedang berlangsung di kelasku,tak ada yang boleh masuk jika terlambat saat ulangan,otomatis ulangan susulan,otomatis tak ada sharing jawaban, omigod. Sibuk mempertimbangkan resiko itu,akhirnya aku langsung berlari menuju kelas,melewati sang satpam yang berusaha menyuruhku mengambil posisi push up.
Lolos,dan sampai dengan selamat didepan kelas. Maybe,It’s my lucky day,guru killer itu sedang tak ada di kelas padahal seisi kelas sedang memasang muka serius mengerjakan soal” killer kimia,akhirnya aku masuk mengambil soal ulangan dari meja guru dan langsung duduk rapi di tempat biasanya,tepat didepan si raja basket yang super cuek dan super jutek.
Dengan santai kukerjakan soal demi soal sambil berusaha membaca tulisan di dalam foto yang kubuka di ponselku. Guru kimia tercinta masuk ke kelas dan sontak mengagetkanku dan yang parah adalah ponselku terpental ke sudut belakang tepat di bangku belakangku, sang killer yang bagaikan mercusuar langsung mendatangiku dan mengambil ponselku,kupikir gerakan tanganku mengambil kurang cepat sepersekian detik sehingga dia mendapatkannya duluan.
“Rena, Tara apa-apaan kalian ini,saling mencontek lewat hp begini!!! Kalian harus dihukum,kalian tau tidak peraturan di sekolah ini ?! saat ulangan dilarang mencontek ! sekarang cepat keluar dan lari keliling lapangan basket 10 kali dan hormat pada bendera 30 menit !!!! cepat atau akan ibu tambah hukumannya !!!” sang killer terus berbicara tanpa koma.
“Tapi bu,lho ini nggak kayak gitu bu, ini Cuma ................” si Tara nyoba njelasin ke ibu guru killer.
Aku cuma diem dan langsung keluar menuju lapangan upacara. Terlihat samar-samar bayangan Tara yang nampaknya mulai lelah menjelaskan pada guru itu dan akhirnya nyerah dan keluar mengikuti langkahku.
Di lapangan upacara,hening,lebih dari sunyi,bahkan Tara yang sejak 8 kali putaran berlari bersamaku,tak sedikitpun mengucapkan kata-kata. Aku pun tak berusaha berbicara karna kutau secuek apa si Tara itu. Tepat 10 putaran,aku berhenti dan berjalan perlahan menuju tiang bendera untuk sejenak hormat padanya selama 30 menit, kulihat jam di tangan kananku dan kupikir masih satu jam pelajaran lagi sebelum aku bisa dispen untuk teournament.
Menit-menit pertama berlangsung biasa saja,hormat dan hening serta panas matahari yang tak bersahabat masih menemaniku menjalani 30 menit ini. Sejenak kuturunkan tangan kananku dan kulihat jam,5 menit lagi bel jam kedua,tandanya aku sudah bisa dispen, sedikit lega rasanya,aku kembali hormat sambil kulirik Tara yang sejak tadi masih bertahan berdiri tegak sambil sesekali menyeka keringatnya. Tiba-tiba tak kukira dia menoleh menatapku,pikirku dia akan bertanya,ngapain liat-liat,atau bakal buang muka,tapi perkiraanku salah.
“Capek ya ?” tanyanya sambil menatapku,sungguh pertanyaan yang mustahil dari seorang Tara Putra Wijaya.
“Hmm,nggak juga,cuma haus banget” jawabku tanpa balik menatapnya.
Tiba-tiba dia menurunkan tangannya dan menarik tanganku sambil berlari,aku masih kebingungan dan akhirnya ikut berlari,dan aku baru menyadari bahwa  langkah kami ini menuju kantin.
“Hei,kita belum selesai dihukum,mau ngapain kesini ?” kacang,dia tak menjawab sedikitpun.
Langkahnya berhenti didepan warung Bu Siti dan otomatis aku hentikan langkahku juga. Entah apa yang ia pesan,tapi aku memilih meninggalkannya dan mencari tempat duduk,entah kenapa berlari bersamanya tadi benar-benar membuat jantungku bekerja lebih cepat.
Tak lama kemudian,dia muncul membawa sejenis jus alpukat dan jus jambu. Pandanganku langsung tertuju pada jus alpukat yang memang jadi kesukaanku. Dengan gaya cueknya dia letakkan gelas berisi jus alpukat itu di depanku.
“Tuh cepet minum,cepet siap-siap,ntar lagi tournament,gue gak mau lo telat,kebiasaan yang buruk banget dari lo” dia ngucapin kata-kata itu tepat pas aku hampir bilang makasih buat jusnya,tapi kutahan niatku dan lebih memilih langsung meminum jus itu tanpa menjawab kata-katanya itu.
Beberapa menit kemudian, “Tengs jusnya” kataku sambil berdiri dan melangkah kearah kelasku,bergegas menyiapkan semua tentang tournament nanti.
Suasana riuh di kelas,dengan wajah datar aku langsung mengambil tasku dan langsung keluar tanpa menyapa seorangpun dari penghuni kelas.
“Ren,lo kenapa sih? “ suara Rita terdengar dari belakang punggungku.
“Gue gapapa Rit,cuma sebel aja tadi ketauan guru killer dan harus dihukum bareng tuh anak” cemberut semakin terlihat di mukaku.
“Ah lagian lo nggak ati-ati nyonteknya Ren” kata Rita enteng.
“Ah udahlah Rit,gue males bahas ini,sekarang gue mau berangkat tanding nih”
“Tunggu Ren,tadi ada titpan dari Rama” kata Rita sambil memberikan sebotol pocari sweet dan telihat amplop kecil yang pasti berisi surat.
Aku segera pergi setelah mengucapkan terimakasih pada Rita sekaligus meminta dukungannya untuk tanding final ini. Aku menatap langkahku sambil tertuduk menerawang dan tak mengerti bagaimana harus melewati satu momen setelah ini. Ya, melawan SHS Wijaya memang tak semudah yang kubayangkan,jauh berbeda dari benakku karena regenerasi disana ternyata sangat baik,sampai-sampai pemain basketnya kini lebih dari tiga yang berbakat,sedangkan kami,akhir-akhir ini mengalami kekurangan pemain,bahkan di kubu cewek,baru saja ada mantan kapten yang keluar,ironi bukan. Kepala ini semakin berontak kalau harus memikirkan semua masalah itu, tapi mau tak mau memang itu yang sedang terjadi dan harus dipikirkan. Sambil terus berfikir,aku tak benar-benar memandang lantai koridor yang aku lewati,hanya melamun sambil terus berfikir.
Tepat di depan laboratorium kimia,tak sengaja mataku melirik kedalamnya,tiba-tiba ada sinar mirip kilat tepat menerpa kedua mataku,jelas kaget yang kurasa,tapi aku lebih pada rasa penasaran siapa dibalik kamera itu. Aku mendekat satu langkah kearah lab,tiba-tiba ada suara pintu yang dibanting dari arah kamar mandi sebelah lab,aku langsung menoleh dan mundur beberapa langkah,ternyata hanya angin yang menutup paksa pintu kamar mandi. Aku kembali tiga langkah ke arah lab,dan masuk ke dalamnya,tapi yang kulihat hanya pajangan rumus menyebalkan dan jajaran meja kursi yang biasa membuatku pusing saat ujian kimia. Oke kamera misterius batinku. Aku keluar lab dan melanjutkan langkah menuju tempat parkir sekolah.Setelah sampai disana,aku baru sadar bahwa aku sedang benar-benar linlung,buat apa aku harus ke tempat parkir jika aku berangkat sekolah tadi diantar sopir. Dengan langkah kesal aku sedikit berlari menuju gerbang sekolah yang masih terlihat sunyi. Aku melihat dengan jelas bahwa jam menunjukkan pukul 10.30 tandanya setengah jam lagi aku harus sudah ada di tempat bertanding,omigod dengan tergesa-gesa aku menuju perempatan tempat taxi biasanya bertengger. Dan lima menit kemudian aku sudah duduk diatas taxi dengan nafas yang agak sedikit tak beraturan.
“Pak ke gor kesatrian ya”
“Iya neng,tapi jalannya lagi macet,agak sabar ya neng”
“Yah,pak cari jalan alternatif aja pak,ini lagi tergesa-gesa”
“Baiklah,bapak coba cari jalan yang nggak macet neng”
Semakin tak sabar saja,sudah 15 menit aku dalam perjalanan,yang benar saja,pemanasan dan ganti kostum tak mungkin cukup hanya dengan lima menit kan,sedangkan jaraknya masih seperempat perjalanan dari sini menuju tempat tujuanku. Apa boleh buat.
“Pak,totalnya berapa ?”
“Lho neng,mau turun disini ? Ini masih sekitar 1,5 kilometer lagi”
“Gapapa pak,saya turun disini aja,berapa pak ?”
“10rb neng”
“Ini pak,terimakasih”
Akirnya aku turun ditengah mobil mobil yang antri hendak maju ke tujuan masing-masing. Hanya memiliki waktu 5 menit untuk menempuh jarak sekitar 1 kilometer lebih,tak ada pilihan lain kecuali berlari. Saat itu aku benar-benar tak peduli atas komentar orang yang meihatku berlari-lari dengan seragam sekolah dan membawa dua tas di bahuku,yang aku pikir hanya sampai ditempat tepat waktu,hanya itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar